"Maaf, Pak, tadi macet." Alasan klasik yang mungkin sudah ribuan kali didengar atasan di seluruh dunia. Tapi ternyata, ada karyawan yang jauh lebih kreatif. Ada yang telat karena "dikepung rusa", ada yang karena "kopinya terlalu panas", bahkan ada yang menyalahkan bulu mata palsunya!
Alasan-alasan ini bukan karangan. Semuanya dikumpulkan dari survei tahunan situs lowongan kerja asal Amerika Serikat, CareerBuilder, yang bertanya kepada para manajer HR dan atasan tentang alasan telat paling aneh yang pernah mereka dengar.
Seberapa Sering Karyawan Telat?
Sebelum masuk ke alasan-alasan ajaibnya, ini dulu faktanya. Dalam survei CareerBuilder yang dirilis pada 2017, sekitar 29 persen pekerja di Amerika mengaku datang terlambat setidaknya sebulan sekali, dan 16 persen mengaku telat setiap minggu.
Penyebab paling umum ternyata tidak mengejutkan: macet (49 persen), bangun kesiangan (32 persen), dan cuaca buruk (26 persen). Tapi di antara alasan-alasan biasa itu, terselip cerita yang bikin atasan bingung harus marah atau tertawa.
Alasan Telat Paling Aneh Versi Survei 2016
Dari survei yang dirilis Januari 2016, inilah sebagian alasan yang dilaporkan para atasan:
- "Tadi saya kepikiran mau resign, tapi akhirnya nggak jadi, makanya saya datang telat."
- "Rambut saya terbakar kena hair dryer."
- "Saya harus menggiring sapi-sapi saya kembali ke ladang."
- "Ada beruang hitam masuk ke garasi dan tidur siang di atas kap mobil saya."
- "Ada salju segar di bukit, jadi saya harus main ski dulu."
- "Saya harus menyelesaikan nonton serial My Name Is Earl."
- "Semua baju saya dicuri."
- "Saya bingung soal perubahan jam musim panas, nggak tahu jamnya maju atau mundur."
- "Ada truk pengangkut Vaseline terguling di jalan tol, mobil-mobil pada licin."
Versi Survei 2017: Rusa, Pizza, dan Sandwich Keju
Setahun kemudian, daftar alasan anehnya makin kocak:
- "Saya lupa kalau hari ini bukan akhir pekan."
- "Saya harus nonton pertandingan sepak bola yang sedang main di Eropa."
- "Kura-kura peliharaan saya harus dibawa ke klinik hewan eksotis."
- "Angin meniup lepas teras rumah saya."
- "Saya kesiangan karena anak-anak mengubah semua jam di rumah."
- "Saya dikepung seekor rusa besar (moose)."
- "Pizza pesanan saya telat datang, dan saya harus ada di rumah untuk membayarnya."
- "Matahari terbitnya indah banget, jadi saya harus berhenti dulu untuk menikmatinya."
- "Ibu mertua saya nggak berhenti ngomong."
- "Ayah saya menawarkan bikin sandwich keju panggang, dan saya nggak bisa menolak."
Jujur, alasan matahari terbit itu cukup puitis. Tapi tetap saja telat, ya!
Versi Survei 2018: Dari Astrolog sampai Bulu Mata
Survei 2018 juga tidak kalah ajaib:
- "Terlalu dingin untuk bekerja."
- "Saya mengalami morning sickness." (Yang bilang ternyata seorang pria.)
- "Kopi saya terlalu panas, jadi saya nggak bisa berangkat sampai kopinya dingin."
- "Seorang astrolog memperingatkan akan ada kecelakaan di jalan raya, jadi saya lewat jalan-jalan kecil dan telat satu jam."
- "Anjing saya memakan jadwal kerja saya."
- "Saya sebenarnya sudah sampai, tapi ketiduran di parkiran."
- "Bulu mata palsu saya lengket satu sama lain."
- "Saya lupa sudah lima tahun tidak bekerja di kantor lama, jadi saya malah menyetir ke sana."
Yang terakhir itu mungkin paling relatable bagi siapa pun yang pernah menyetir sambil melamun. Dalam survei yang sama, penyebab telat yang paling umum masih itu-itu saja: macet (51 persen), kesiangan (31 persen), dan cuaca buruk (28 persen). Jadi alasan-alasan ajaib di atas memang pengecualian, bukan kebiasaan sehari-hari.
Kalau di Indonesia, Alasannya Apa?
Memang belum ada survei resmi seperti CareerBuilder untuk Indonesia, tapi kita semua pasti pernah dengar alasan-alasan "lokal" seperti ban bocor, banjir, KRL gangguan, atau ojol yang nyasar. Sebagian memang benar terjadi, apalagi di kota besar dengan lalu lintas padat.
Masalahnya, kalau keterlambatan sering terjadi, ini bisa berdampak pada produktivitas tim dan juga perhitungan gaji atau tunjangan kehadiran. Karena itulah kebanyakan perusahaan sekarang tidak lagi hanya mengandalkan "kepercayaan".
Dari Kartu Absen ke Wajah dan Sidik Jari
Dulu, kantor-kantor memakai mesin jam dengan kartu kertas. Karyawan memasukkan kartu ke mesin, lalu mesin mencetak jam kedatangan. Praktis, tapi gampang dicurangi: cukup titip kartu ke teman, yang dikenal dengan istilah "titip absen".
Mesin pencatat waktu (time clock) dengan kartu kertas, cikal bakal mesin absensi modern. Foto: Jonathan Mauer, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Sekarang teknologinya sudah jauh berkembang. Banyak perusahaan memakai mesin absensi sidik jari, pengenalan wajah, atau aplikasi di ponsel dengan lokasi GPS. Datanya tercatat otomatis, sulit dititipkan, dan langsung bisa direkap untuk laporan kehadiran. Kalau penasaran dengan pilihan mesin absensi yang dipakai kantor-kantor sekarang, kamu bisa lihat contohnya di mesinabsensi.co.id.
Tapi secanggih apa pun mesinnya, tetap saja tidak bisa menghentikan beruang tidur di atas kap mobil, kan?
Nah, sekarang giliranmu. Apa alasan telat paling aneh yang pernah kamu dengar, atau malah pernah kamu pakai sendiri? Tenang, atasanmu nggak baca kok. Tulis di kolom komentar!
Sumber: survei CareerBuilder via PR Newswire: 2016, 2017, 2018.
Comments
Post a Comment