Epidemi Tertawa Tanganyika 1962: Saat Wabah Tawa Menyerang 95 Siswi di Kashasha dan Memaksa Sekolah Ditutup
Tertawa itu menular. Kamu pasti pernah ikut ngakak cuma gara-gara lihat teman tertawa, padahal belum tahu apa yang lucu. Tapi bagaimana kalau "tertawa menular" itu berubah jadi wabah sungguhan, sampai sekolah-sekolah harus ditutup?
Itulah yang terjadi di Tanganyika (sekarang bagian dari Tanzania) pada 1962. Peristiwa ini dikenal dunia sebagai epidemi tertawa Tanganyika. Kedengarannya lucu, tapi bagi para korbannya, ini sama sekali bukan lelucon.
Berawal dari Tiga Siswi di Kashasha
Semuanya dimulai pada 30 Januari 1962 di sebuah sekolah asrama putri yang dikelola misi di desa Kashasha. Desa ini berada sekitar 25 mil (kira-kira 40 km) dari kota Bukoba, di tepi barat Danau Victoria, tidak jauh dari perbatasan Uganda.
Hari itu, tiga siswi tiba-tiba mulai bertingkah tidak biasa. Mereka tertawa dan menangis tanpa sebab yang jelas. Dalam waktu singkat, "penyakit" itu menyebar ke seluruh sekolah.
Para siswinya berusia antara 12 dan 18 tahun. Menurut laporan dokter A.M. Rankin dan P.J. Philip yang terbit pada 1963, sampai 18 Maret 1962, sudah 95 dari 159 siswi yang terserang. Sekolah pun terpaksa ditutup.
Yang bikin heran, tidak ada satu pun guru yang ikut terserang, baik guru Eropa maupun guru Afrika.
Letak wilayah Kagera (merah) di barat laut Tanzania, tempat Bukoba dan Kashasha berada. Peta: Sémhur, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Gejalanya Bukan Cuma Tertawa
Jangan bayangkan orang-orang yang tertawa bahagia. Serangannya datang tiba-tiba, berupa tawa dan tangis yang berlangsung dari beberapa menit sampai beberapa jam, lalu reda, lalu kambuh lagi.
Penderitanya gelisah. Banyak yang mengaku takut pada sesuatu, seolah ada seseorang yang mengejar mereka, tapi tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Gejala bisa bertahan dari beberapa jam sampai paling lama 16 hari, rata-rata sekitar seminggu.
Para guru yang tidak ikut terserang melaporkan bahwa siswi-siswi itu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran. Kegiatan belajar pun berantakan.
Sekolah Dibuka, Wabah Kambuh Lagi
Pada 21 Mei 1962, sekolah di Kashasha dibuka kembali. Hasilnya? Wabah datang lagi. Kali ini 57 siswi terserang, dan sekolah ditutup lagi pada akhir Juni.
Sementara itu, wabah sudah "ikut pulang" bersama para siswi. Penyakit ini kemudian muncul di Nshamba, sekitar 55 mil di barat Bukoba, kampung asal beberapa siswi. Di sana, 217 orang yang kebanyakan masih muda terserang selama 34 hari pada April dan Mei 1962.
Pada Juni, wabah merambat ke sekolah menengah putri Ramashenye dan menyerang 48 siswi. Sekolah-sekolah lain dan desa Kanyangereka juga kena imbasnya. Semua lokasi yang terdampak berada dalam radius sekitar 100 mil dari Bukoba.
Warga setempat menyebutnya endwara ya kucheka, yang dalam laporan The New York Times diterjemahkan sebagai "masalah tertawa". Ada juga yang percaya udaranya sudah "diracuni" oleh ledakan bom atom.
Dokter Mencari Virus, tapi Tak Menemukan Apa-apa
Pemerintah meminta tim dokter menyelidiki. Rankin, profesor kedokteran dari Makerere University College di Uganda, bersama Philip, petugas medis pemerintah Tanganyika, mengambil sampel darah dan cairan tulang belakang, memeriksa fisik pasien, sampai menguji makanan lokal.
Hasilnya negatif semua. Tidak ada demam, tidak ada racun, tidak ada virus atau bakteri yang bisa disalahkan. Karena semua penyebab fisik sudah dicoret, mereka menyimpulkan ini adalah histeria massal.
Sekarang istilah yang lebih sering dipakai adalah mass psychogenic illness atau penyakit psikogenik massal. Artinya, gejalanya nyata dirasakan, tapi pemicunya berasal dari tekanan psikologis yang dialami bersama, bukan dari kuman atau zat beracun.
Peta perbatasan Tanzania dan Uganda, dengan Bukoba di tepi barat Danau Victoria. Peta: Departemen Luar Negeri AS (US Department of State), domain publik, via Wikimedia Commons.
Kenapa Bisa Terjadi?
Ahli linguistik Christian F. Hempelmann, yang meneliti ulang peristiwa ini, menilai pemicunya adalah stres. Tanganyika saat itu baru saja merdeka, dan para siswa mengaku tertekan oleh harapan yang makin tinggi dari guru dan orang tua.
Kepada Chicago Tribune, Hempelmann menjelaskan bahwa penyakit psikogenik massal biasanya menimpa orang yang tidak punya banyak kuasa. Menurutnya, ini adalah "jalan terakhir" bagi mereka untuk menyampaikan bahwa ada sesuatu yang salah.
Sosiolog Robert Bartholomew dan psikiater Simon Wessely punya pandangan yang mirip. Mereka menyoroti benturan antara nilai tradisional yang ketat di rumah dan gagasan-gagasan baru yang diajarkan di sekolah misi.
Mitos yang Dibesar-besarkan
Kisah ini sering diceritakan berlebihan, seolah ribuan orang tertawa tanpa henti selama setahun lebih. Hempelmann meluruskannya. Menurutnya, tidak ada orang yang bisa tertawa lebih dari sekitar 20 detik karena tertawa sangat menguras napas.
Yang terjadi sebenarnya adalah serangan yang datang dan pergi. Tawa hanya salah satu gejala, di samping tangis, rasa sakit, pingsan, gangguan napas, dan ruam. Angka korbannya pun beragam. Salah satu hitungan yang sering dikutip menyebut sekitar 1.000 orang terdampak dan 14 sekolah ditutup, sementara wabahnya baru benar-benar reda sekitar 18 bulan setelah dimulai.
Menariknya, ini bukan satu-satunya wabah aneh di sekitar Danau Victoria. Pada 1963, giliran Kigezi dan Mbale di Uganda dilanda "mania berlari". Fenomena serupa juga pernah terjadi berabad-abad sebelumnya di Eropa, misalnya wabah menari Strasbourg 1518, saat warga menari berhari-hari tanpa bisa berhenti.
Ketika Pikiran Bisa "Menular"
Epidemi tertawa Tanganyika jadi pengingat bahwa stres bisa menyebar di sebuah kelompok, persis seperti penyakit. Kamu pernah mengalami atau mendengar kejadian "kesurupan massal" atau histeria massal di sekolah atau tempat kerja? Ceritakan pengalamanmu di kolom komentar, ya!
Sumber: Wikipedia, "Tanganyika laughter epidemic"; Yolana Pringle, "Investigating 'mass hysteria' in early postcolonial Uganda", Journal of the History of Medicine and Allied Sciences; Chicago Tribune, "Examining 1962's 'laughter epidemic'" (2003).
Comments
Post a Comment