Bayangkan sebuah kasus yang membuat polisi California pusing selama lebih dari 40 tahun. Pelakunya beraksi di banyak kota, memakai banyak "nama julukan", dan selalu lolos. Lalu suatu hari di tahun 2018, kasus itu akhirnya terpecahkan bukan karena saksi baru, bukan juga karena pengakuan, melainkan karena... situs pencarian silsilah keluarga.
Inilah kisah penyelidikan Golden State Killer, salah satu kasus cold case paling terkenal di Amerika Serikat. Fokus kita di sini adalah bagaimana penyelidik akhirnya menemukan pelakunya, karena caranya benar-benar mengubah dunia forensik.
Satu Pelaku, Banyak Julukan
Antara tahun 1974 dan 1986, serangkaian kejahatan serius terjadi di berbagai wilayah California. Awalnya, polisi mengira pelakunya berbeda-beda, sehingga media dan aparat memberi beberapa julukan:
- Visalia Ransacker, untuk rangkaian pembobolan rumah di kota Visalia.
- East Area Rapist, untuk serangan di wilayah Sacramento dan sekitarnya.
- Original Night Stalker, untuk serangkaian pembunuhan di California Selatan.
Belakangan terbukti semua itu ulah satu orang. Total ia melakukan 13 pembunuhan, ditambah banyak sekali serangan dan pembobolan rumah. Lalu tiba-tiba, setelah 1986, aksinya berhenti. Jejaknya hilang begitu saja.
DNA yang Menyambungkan Titik-Titik
Kemajuan pertama datang pada tahun 2001. Lewat tes DNA, penyelidik memastikan bahwa East Area Rapist dan Original Night Stalker ternyata orang yang sama. Kasusnya pun digabung dengan sebutan EARONS.
Masalahnya, punya DNA pelaku belum tentu berarti tahu siapa orangnya. Profil DNA itu tidak cocok dengan siapa pun di database kriminal. Artinya, pelaku tidak pernah tercatat dalam sistem tersebut. Selama bertahun-tahun, banyak tersangka dicoret satu per satu lewat tes DNA, alibi, atau metode lain, tapi pelaku aslinya tetap tak tersentuh.
Penulis yang Memberi Nama "Golden State Killer"
Kasus ini kembali ramai berkat seorang penulis kriminal bernama Michelle McNamara. Dialah yang mempopulerkan julukan "Golden State Killer" (Golden State adalah sebutan untuk California) supaya kasusnya lebih dikenal publik. Ia meneliti kasus ini dengan sangat tekun, tapi meninggal dunia pada 2016 sebelum bukunya selesai.
Bukunya, I'll Be Gone in the Dark, terbit pada 2018 dan kemudian diadaptasi menjadi serial dokumenter HBO pada 2020. Pada 2016, FBI dan kepolisian setempat juga menggelar konferensi pers untuk menghidupkan lagi pencarian, lengkap dengan hadiah 50.000 dolar AS bagi siapa saja yang bisa membantu.
Terobosan: Mencari Lewat "Sepupu Jauh"
Nah, di sinilah bagian paling menarik. Penyelidik mencoba cara yang waktu itu masih sangat baru: genealogi genetik investigatif.
Caranya kira-kira begini. Profil DNA pelaku dari bukti lama di Ventura County diunggah ke GEDmatch, situs tempat orang-orang mengunggah hasil tes DNA mereka untuk mencari kerabat. Pelakunya sendiri tentu tidak pernah ikut tes DNA. Tapi sebagian kerabat jauhnya ternyata ikut.
Situs itu menemukan sekitar 10 sampai 20 orang yang punya leluhur yang sama dengan pelaku, yaitu kakek-nenek buyut dari beberapa generasi di atasnya. Dari situ, tim yang terdiri dari lima penyelidik bersama ahli silsilah Barbara Rae-Venter menyusun pohon keluarga yang sangat besar.
Setelah itu, mereka menyaring nama-nama di pohon keluarga itu memakai petunjuk lain seperti usia, jenis kelamin, dan tempat tinggal. Satu per satu dicoret, sampai tersisa dua kandidat. Satu kandidat gugur lewat tes DNA kerabatnya, sehingga hanya tersisa satu nama: Joseph James DeAngelo.
Pintu Mobil dan Tisu di Tempat Sampah
Pohon keluarga saja belum cukup sebagai bukti. Penyelidik butuh DNA DeAngelo sendiri. Pada 18 April 2018, mereka diam-diam mengambil sampel DNA dari gagang pintu mobilnya. Sampel kedua diambil dari tisu yang ditemukan di tempat sampah depan rumahnya.
Hasilnya cocok dengan DNA dari lokasi kejahatan. Pada 24 April 2018, DeAngelo yang saat itu berusia 72 tahun ditangkap di rumahnya di Citrus Heights, dekat Sacramento.
Fakta yang bikin publik terkejut: DeAngelo ternyata mantan polisi. Ia bertugas di kepolisian Exeter dari 1973 sampai 1976, lalu di Auburn dari 1976 sampai 1979. Ia dipecat pada 1979 setelah tertangkap mengutil palu dan semprotan pengusir anjing di sebuah toko. Ironisnya, saat masih bertugas di Exeter, ia bahkan ikut membantu pencarian Visalia Ransacker, yang tak lain adalah dirinya sendiri.
Akhir Kasus di Pengadilan
Karena masa kedaluwarsa hukum, banyak kejahatan lamanya tidak bisa lagi didakwakan. Jaksa akhirnya menuntutnya dengan 13 dakwaan pembunuhan dan 13 dakwaan penculikan.
Pada 29 Juni 2020, DeAngelo mengaku bersalah lewat kesepakatan yang membuatnya terhindar dari hukuman mati. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, ia juga mengakui banyak kejahatan lain yang tidak didakwakan. Pada 21 Agustus 2020, ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan bebas bersyarat.
Warisan Kasus Ini: Dunia Forensik Berubah
Kasus Golden State Killer menjadi titik balik. Setelah 2018, teknik genealogi genetik dipakai untuk membuka banyak kasus lama lain yang sebelumnya buntu.
Tapi teknik ini juga memicu perdebatan soal privasi. Orang yang mengunggah DNA untuk mencari kerabat belum tentu setuju datanya dipakai polisi. Karena itu, GEDmatch kemudian mengubah aturannya pada 2019 sehingga data pengguna hanya bisa dipakai penegak hukum jika pengguna sendiri memilih untuk mengizinkannya.
Jadi, kasus ini bukan cuma soal tertangkapnya seorang pelaku. Ia juga memunculkan pertanyaan besar: seberapa jauh data pribadi kita boleh dipakai demi keadilan?
Bagaimana Menurutmu?
Kalau kamu pernah atau ingin ikut tes DNA untuk mencari asal-usul keluarga, apakah kamu rela datanya dipakai untuk membantu memecahkan kasus kriminal? Atau justru khawatir soal privasi? Yuk, tulis pendapatmu di kolom komentar!
Sumber: Wikipedia, "Joseph James DeAngelo"; FBI, pengumuman kasus East Area Rapist/Golden State Killer (2016); Michelle McNamara, I'll Be Gone in the Dark (HarperCollins, 2018); dokumenter HBO I'll Be Gone in the Dark (2020).

Comments
Post a Comment