Namanya sudah terdengar di mana-mana: buku, film, gim, sampai tur jalan kaki di London. Tapi ada satu fakta yang bikin Jack the Ripper beda dari pelaku kejahatan terkenal lainnya: sampai sekarang, lebih dari 130 tahun kemudian, tidak ada yang tahu pasti siapa dia sebenarnya.
Di artikel ini kita tidak akan membahas detail kejahatannya. Kita fokus ke hal yang jauh lebih menarik: bagaimana polisi zaman Victoria menyelidiki kasus ini, siapa saja tersangkanya, dan kenapa misterinya belum terpecahkan.
London Timur, Musim Gugur 1888
Whitechapel di London Timur pada akhir abad ke-19 adalah kawasan yang padat, miskin, dan minim penerangan. Ribuan orang tinggal berdesakan di rumah-rumah penginapan murah. Di tengah kondisi seperti itu, antara 31 Agustus dan 9 November 1888, lima perempuan kehilangan nyawa dalam rangkaian kasus yang kemudian dikaitkan dengan satu pelaku.
Para sejarawan menyebut mereka "lima korban kanonik": Mary Ann Nichols, Annie Chapman, Elizabeth Stride, Catherine Eddowes, dan Mary Jane Kelly. Selama bertahun-tahun, mereka sering hanya disebut sebagai "korban". Baru belakangan, lewat buku sejarawan Hallie Rubenhold berjudul The Five (2019), kisah hidup mereka sebagai ibu, istri, dan pekerja diceritakan secara utuh.
Penyelidikan Besar dengan Alat Seadanya
Kasus ini ditangani oleh Kepolisian Metropolitan London, dengan Inspektur Frederick Abberline sebagai salah satu detektif paling terkenal. Karena salah satu lokasi kejadian berada di wilayah City of London, kepolisian City of London juga ikut menyelidiki.
Skalanya besar untuk ukuran zamannya. Menurut catatan sejarah, polisi mewawancarai lebih dari 2.000 orang, menyelidiki lebih dari 300 orang, dan menahan sekitar 80 orang untuk diperiksa. Mereka juga menyebarkan selebaran dari rumah ke rumah untuk meminta informasi dari warga.

Selebaran "Police Notice to the Occupier" yang dibagikan polisi kepada warga Whitechapel, 30 September 1888. Foto: Metropolitan Police Office (1888), Public domain, via Wikimedia Commons
Masalahnya, ilmu forensik waktu itu masih sangat terbatas. Belum ada tes DNA, belum ada kamera pengawas, dan Scotland Yard baru resmi memakai sidik jari sebagai alat identifikasi pada 1901, lebih dari satu dekade setelah kasus ini. Polisi bahkan sempat mencoba memakai anjing pelacak, tapi tidak membuahkan hasil.
Surat "Dear Boss" dan Lahirnya Nama "Jack the Ripper"
Nama "Jack the Ripper" sebenarnya tidak berasal dari polisi. Nama itu muncul dari sebuah surat yang diterima kantor berita Central News Agency pada 27 September 1888. Surat yang diawali kalimat "Dear Boss" itu ditandatangani dengan nama "Jack the Ripper", dan setelah dipublikasikan, namanya langsung melekat.

Bagian pertama surat "Dear Boss" (1888), surat pertama yang memakai nama "Jack the Ripper". Foto: Penulis tidak diketahui (1888), Public domain, via Wikimedia Commons
Setelah itu, polisi dan media dibanjiri ratusan surat lain yang mengaku dari si pelaku. Kebanyakan diyakini palsu. Bahkan banyak sejarawan menduga surat "Dear Boss" sendiri ditulis oleh seorang wartawan untuk menaikkan oplah koran. Surat lain yang terkenal adalah surat "From Hell" yang dikirim kepada George Lusk, ketua komite warga Whitechapel, pada Oktober 1888.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: kasus Jack the Ripper adalah salah satu contoh pertama "sensasi media" modern, ketika koran berlomba-lomba memberitakan kasus kriminal demi pembaca.
Siapa Saja Tersangkanya?
Daftar tersangka dalam kasus ini mencapai ratusan nama. Beberapa yang paling sering dibahas:
- Montague John Druitt, guru dan pengacara yang meninggal pada akhir 1888. Namanya disebut dalam memo Kepala Polisi Melville Macnaghten pada 1894.
- Aaron Kosminski, tukang cukur imigran asal Polandia yang juga disebut dalam memo Macnaghten.
- Michael Ostrog, penipu ulung yang juga masuk memo yang sama. Belakangan diketahui ia kemungkinan sedang ditahan di Prancis saat kasus terjadi.
- Francis Tumblety, "dokter" palsu asal Amerika yang sempat ditangkap di London pada 1888 lalu kabur ke Amerika.
- George Chapman (Seweryn KÃ…‚osowski), yang konon dicurigai oleh Abberline sendiri.
- Walter Sickert, pelukis terkenal yang dituduh oleh penulis kriminal Patricia Cornwell. Teori ini banyak ditolak sejarawan.
Klaim DNA yang Masih Diperdebatkan
Pada 2014, penulis Russell Edwards mengklaim telah memecahkan kasus ini lewat analisis DNA dari sebuah selendang yang disebut berasal dari lokasi kejadian. Hasilnya, menurut dia, mengarah ke Aaron Kosminski, dan analisisnya dipublikasikan di Journal of Forensic Sciences pada 2019.
Namun banyak ahli meragukannya. Asal-usul selendang itu tidak terdokumentasi dengan jelas, benda itu sudah disentuh banyak orang selama lebih dari seabad, dan jenis DNA yang dipakai tidak cukup kuat untuk menunjuk satu orang secara pasti. Jadi, secara resmi kasus ini tetap belum terpecahkan.
Kenapa Sampai Sekarang Belum Terungkap?
- Bukti fisik minim dan tidak bisa dianalisis dengan teknologi saat itu.
- Banyak arsip hilang. Sebagian berkas lenyap selama puluhan tahun, dan arsip Kepolisian City of London ikut hancur akibat pengeboman London pada Perang Dunia II.
- Surat-surat palsu membuat penyelidikan makin kacau.
- Semua saksi dan tersangka sudah lama meninggal, sehingga tidak ada lagi yang bisa diperiksa.
Warisan Kasus Whitechapel
Kasus ini meninggalkan jejak besar dalam sejarah kepolisian. Kegagalan penyelidikan 1888 ikut mendorong perkembangan ilmu forensik, kerja sama antarlembaga, dan cara polisi berkomunikasi dengan media. Bahkan lahir istilah "Ripperologi" untuk menyebut studi tentang kasus ini.
Yang juga penting: makin banyak orang kini mengingat kisah ini dari sisi para korban, bukan hanya dari sosok misterius pelakunya.
Kalau kamu jadi detektif di London tahun 1888, menurutmu langkah apa yang seharusnya dilakukan polisi? Atau kamu punya tersangka favorit dari daftar di atas? Yuk, diskusi di kolom komentar!
Sumber: Wikipedia: Jack the Ripper, Wikipedia: Jack the Ripper suspects.
Comments
Post a Comment