Kisah Hachiko, Anjing Paling Setia di Dunia yang Menunggu Tuannya Hampir 10 Tahun di Stasiun Shibuya
Pernah menunggu seseorang yang tak kunjung datang? Mungkin cuma lima belas menit di depan kafe, dan rasanya sudah lama sekali. Sekarang bayangkan menunggu hampir sepuluh tahun. Itulah yang dilakukan Hachiko, seekor anjing Akita yang setiap hari datang ke Stasiun Shibuya, Tokyo, untuk menjemput tuannya yang sebenarnya sudah tiada.
Kisahnya sudah difilmkan, dibuatkan patung, bahkan bikin banyak orang menangis di bioskop. Tapi bagaimana cerita aslinya? Yuk, kita telusuri kisah anjing paling setia di dunia ini.
Anak Anjing dari Akita untuk Seorang Profesor
Hachiko lahir pada pertengahan November 1923 di sebuah peternakan dekat Kota Odate, Prefektur Akita, Jepang. Pada Januari 1924, anak anjing berbulu krem itu dikirim ke Tokyo sebagai hadiah untuk Hidesaburo Ueno, profesor pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo (sekarang Universitas Tokyo).
Perjalanan kereta di musim dingin itu begitu melelahkan sampai Hachi sempat dikira mati saat tiba. Untungnya, Ueno dan pasangannya, Yaeko, merawatnya sampai sehat. Profesor yang memang pencinta anjing itu sangat menyayangi Hachi.
Soal asal nama "Hachi" (yang berarti delapan dalam bahasa Jepang), ada banyak versi dan belum ada yang terbukti pasti. Akhiran "-ko" sendiri adalah sebutan sayang sekaligus hormat, kira-kira seperti "Tuan Hachi".
Rutinitas Manis di Stasiun Shibuya
Setiap hari, Profesor Ueno berangkat kerja naik kereta dari Stasiun Shibuya. Sore harinya, Hachi sudah menunggu di stasiun untuk menyambutnya pulang. Warga sekitar dan petugas stasiun pun lama-lama hafal dengan pasangan manusia dan anjing ini.
Sayangnya, kebersamaan mereka hanya berlangsung sekitar satu setengah tahun. Pada 21 Mei 1925, Ueno meninggal mendadak di kampus akibat gangguan pembuluh darah otak. Sore itu Hachi tetap datang ke stasiun, menunggu kereta yang tak pernah membawa tuannya pulang.
Menunggu Hampir Sepuluh Tahun
Setelah Ueno wafat, Hachi sempat dititipkan ke beberapa orang. Akhirnya ia tinggal bersama Kikusaburo Kobayashi, tukang kebun keluarga Ueno, yang rumahnya tidak jauh dari Stasiun Shibuya. Dan begitu dilepas, Hachi langsung berjalan ke stasiun.
Hampir setiap hari selama kurang lebih sembilan setengah tahun, dalam cuaca apa pun, Hachi muncul di depan gerbang tiket, di sekitar jam kedatangan kereta. Kisah aslinya tidak selalu manis. Ada pedagang dan pengunjung yang baik hati memberinya makan, tetapi tidak sedikit juga yang mengusir, memukul, bahkan mencoret wajahnya dengan tinta. Meski begitu, Hachi terus datang.
Semuanya berubah pada Oktober 1932, ketika surat kabar Asahi Shimbun memuat kisahnya. Hachi mendadak terkenal di seluruh Jepang. Orang-orang datang membawakan makanan, guru-guru menjadikannya contoh kesetiaan bagi murid, dan ia mendapat julukan chuken Hachiko, "Hachiko si anjing setia".
Hachiko di Stasiun Shibuya sekitar tahun 1933, saat ia sudah tua. Gambar: penulis tidak diketahui, domain publik, via Wikimedia Commons
Patung yang Diresmikan Saat Hachi Masih Hidup
Saking terkenalnya, Hachiko dibuatkan patung perunggu karya pematung Teru Ando. Patung itu diresmikan di Stasiun Shibuya pada 21 April 1934, dan uniknya, Hachi sendiri ikut hadir dalam acara peresmiannya!
Patung pertama itu tidak bertahan lama. Saat Perang Dunia II, Jepang kekurangan logam sehingga patung Hachiko ikut dilebur. Setelah perang, putra Teru Ando, Takeshi Ando, membuat patung baru yang diresmikan pada Agustus 1948. Patung inilah yang sampai sekarang berdiri di Shibuya dan menjadi salah satu titik janjian paling populer di Tokyo. Pintu keluar stasiun di dekatnya bahkan dinamai Hachiko-guchi.
Akhir Penantian Hachi
Hachiko meninggal pada 8 Maret 1935 di sebuah jalan di Shibuya, dalam usia sekitar 11 tahun. Kabar kematiannya dimuat koran-koran di seluruh Jepang, bahkan sampai ke luar negeri. Pemeriksaan kala itu menemukan cacing jantung, dan penelitian ulang pada 2011 menyimpulkan ia juga mengidap kanker. Tusuk sate yakitori yang ditemukan di perutnya ternyata bukan penyebab kematiannya.
Sebagian jasad Hachi dimakamkan di Pemakaman Aoyama, di sisi makam Profesor Ueno. Sementara itu, kulitnya diawetkan dan dipajang di Museum Nasional Alam dan Sains di Ueno, Tokyo. Awetan ini pertama kali dipamerkan pada 15 Juni 1935, tiga bulan setelah Hachi mati, dan sampai sekarang masih bisa kamu lihat di Japan Gallery. Fakta uniknya: kuping kiri Hachi aslinya agak terkulai, tetapi pada awetan ini kedua kupingnya dibuat tegak.
Awetan Hachiko di Museum Nasional Alam dan Sains, Tokyo. Gambar: Momotarou2012, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons
Dari Film Jepang sampai Richard Gere
Pada 1987, kisah ini diangkat ke layar lebar lewat film Jepang Hachiko Monogatari karya sutradara Seijiro Koyama, dibintangi Tatsuya Nakadai. Film ini menjadi film Jepang terlaris di negaranya pada tahun itu.
Lalu pada 2009 hadir versi Amerika, Hachi: A Dog's Tale, garapan Lasse Hallstrom dengan Richard Gere sebagai sang profesor. Ceritanya dipindah ke kota kecil di Amerika Serikat, dan syutingnya dilakukan di Woonsocket, Rhode Island. Peran Hachi dimainkan oleh tiga anjing Akita. Film ini dirilis di lebih dari 60 negara dan meraup lebih dari 45 juta dolar AS di luar Amerika. Siap-siap tisu kalau mau menontonnya!
Akhirnya Bertemu Lagi, Setidaknya dalam Bentuk Patung
Ada satu hal yang bikin hati hangat. Pada 8 Maret 2015, tepat 80 tahun setelah Hachi mati, Fakultas Pertanian Universitas Tokyo meresmikan patung baru karya pematung Tsutomu Ueda. Kali ini Hachi tidak sendirian: ia digambarkan melompat kegirangan menyambut Profesor Ueno yang pulang kerja.
Menurut Universitas Tokyo, kalau Hachiko di Shibuya masih menunggu sendirian, Hachiko di kampus mereka mengekspresikan kebahagiaan bertemu kembali dengan tuannya setelah 90 tahun berpisah.
Kenapa Kisah Hachiko Masih Bikin Terharu?
Mungkin karena kisahnya sangat sederhana: seekor anjing, sebuah stasiun, dan seseorang yang ditunggu. Tidak ada kekuatan super, hanya kebiasaan kecil yang dilakukan dengan setia setiap hari. Hampir semua orang pernah merindukan seseorang yang tak bisa kembali, jadi kisah Hachi terasa begitu dekat.
Pengaruhnya pun nyata. Helen Keller, yang mengetahui kisah Hachiko saat berkunjung ke Prefektur Akita, jadi tertarik pada anjing Akita dan membawa Akita pertama ke Amerika pada 1937. Di Jepang sendiri, setiap tahun masih digelar acara peringatan untuk Hachi, dan pada November 2023 ulang tahunnya yang ke-100 dirayakan dengan meriah.
Penutup
Hachiko mengajarkan bahwa kesetiaan tidak selalu butuh kata-kata. Kadang cukup dengan terus hadir, hari demi hari, bahkan ketika dunia di sekitarnya tidak selalu ramah.
Kamu sudah pernah nonton film Hachiko? Versi Jepang atau versi Richard Gere? Atau kamu punya hewan peliharaan yang juga selalu menunggumu pulang? Ceritakan di kolom komentar, ya!
Sumber: Wikipedia: Hachikō, The University of Tokyo, UTokyo: Hachiko and UTokyo, Japan Center for Asian Historical Records, Wikipedia: Hachikō Monogatari, Wikipedia: Hachi: A Dog's Tale.
Comments
Post a Comment