Bayangkan kamu sedang berlayar di tengah Samudra Atlantik, lalu melihat sebuah kapal yang bergerak oleng tanpa arah. Kamu kirim sinyal, tidak ada jawaban. Kamu naik ke atas kapal itu, dan... kosong. Tidak ada kapten, tidak ada awak, tidak ada penumpang. Barang-barang pribadi masih rapi, persediaan makanan masih banyak, muatan masih utuh.
Itulah yang benar-benar terjadi pada Mary Celeste, kapal yang ditemukan terombang-ambing tanpa satu orang pun di dalamnya pada Desember 1872. Sampai hari ini, nasib 10 orang yang ada di kapal itu tidak pernah diketahui. Yuk, kita bedah kisahnya pelan-pelan!
Kapal yang Awalnya Bernama Amazon
Mary Celeste dibangun di desa Spencers Island, Nova Scotia, Kanada, dan diluncurkan pada 18 Mei 1861 dengan nama Amazon. Kapal ini berjenis brigantine, yaitu kapal layar dua tiang.
Perjalanannya sejak awal sudah penuh drama. Kapten pertamanya, Robert McLellan, jatuh sakit dan meninggal tak lama setelah pelayaran perdana dimulai. Pada 1867, Amazon terdampar karena badai di Pulau Cape Breton dan rusak parah sampai dianggap bangkai kapal.
Bangkai itu kemudian dibeli, diperbaiki, lalu didaftarkan di New York pada 1868 dengan nama baru: Mary Celeste. Awal 1872, kapal ini direnovasi besar-besaran sehingga ukurannya bertambah dan dek keduanya ditambahkan.
Lukisan kapal Amazon (kelak bernama Mary Celeste) tahun 1861, pelukis tidak diketahui pasti. Domain publik, via Wikimedia Commons.
Pelayaran Terakhir dari New York ke Genoa
Pada 1872, Mary Celeste dinakhodai oleh Kapten Benjamin Spooner Briggs, pelaut berpengalaman yang dikenal taat beragama dan disegani. Ia bahkan ikut memiliki sebagian saham kapal ini.
Muatannya adalah 1.701 barel alkohol dengan tujuan Genoa, Italia. Briggs membawa serta istrinya, Sarah, dan putri mereka yang masih balita, Sophia Matilda. Sementara itu, putra mereka, Arthur, tinggal di rumah bersama neneknya karena harus sekolah.
Awaknya ada tujuh orang, termasuk mualim pertama Albert Richardson dan empat pelaut asal Jerman yang belakangan digambarkan sebagai "pelaut kelas satu yang cinta damai". Kapal ini meninggalkan pelabuhan New York pada 7 November 1872. Total ada 10 jiwa di atas kapal.
Ditemukan Kosong di Dekat Azores
Pada 4 Desember 1872, kapal Kanada bernama Dei Gratia melihat sebuah kapal yang bergerak tidak stabil di antara Kepulauan Azores dan pesisir Portugal. Kapten Dei Gratia, David Morehouse, curiga karena tidak ada orang di dek dan sinyalnya tidak dibalas.
Mualim pertama Oliver Deveau dan mualim kedua John Wright lalu naik ke kapal tersebut. Yang mereka temukan bikin merinding:
- Sebagian layar terpasang, sebagian rusak atau hilang.
- Satu-satunya sekoci kapal hilang.
- Ada sekitar 1 meter air di palka, banyak tapi tidak sampai membuat kapal tenggelam.
- Kompas bergeser dan kacanya pecah, dan sebuah alat ukur kedalaman air ditinggalkan di dek.
- Barang pribadi kapten dan awak masih ada, tapi sebagian besar dokumen kapal dan alat navigasi kapten hilang.
Catatan terakhir di buku log bertanggal 25 November, pukul 8 pagi, di dekat Pulau Santa Maria, Azores. Lokasi itu berjarak hampir 400 mil laut dari titik kapal ditemukan. Tidak ada tanda kebakaran atau kekerasan. Semuanya mengarah pada satu kesimpulan: orang-orang di kapal pergi dengan sekoci secara teratur. Tapi kenapa?
Sidang di Gibraltar: Dicurigai Ada Kejahatan
Kru Dei Gratia membawa Mary Celeste ke Gibraltar untuk klaim upah penyelamatan. Di sana, Jaksa Agung Gibraltar, Frederick Solly-Flood, yakin ada kejahatan. Ia menduga awak kapal mabuk alkohol muatan, membunuh keluarga Briggs, lalu kabur.
Ada temuan yang awalnya menguatkan dugaan itu, seperti goresan di haluan dan noda yang dikira darah pada pedang kapten. Tapi hasil analisis menunjukkan noda tersebut bukan darah. Seorang perwira Angkatan Laut AS juga menilai goresan di haluan terjadi secara alami akibat laut.
Karena tidak ada bukti kuat, kapal akhirnya dilepas. Upah penyelamatan yang diberikan hanya £1.700, sekitar seperlima nilai kapal dan muatan, jauh di bawah perkiraan banyak orang.
Teori-Teori yang Paling Masuk Akal
Teori pembajakan dan perompak dinilai lemah karena barang berharga tidak dijarah. Teori konspirasi antara dua kapten pun tidak punya bukti. Lalu apa yang mungkin terjadi?
1. Uap alkohol dan ledakan kecil. Saat dibongkar di Genoa, 9 dari 1.701 barel ternyata kosong. Salah satu teori menyebut uap alkohol yang bocor membuat kru takut kapal akan meledak, sehingga kapten memerintahkan semua orang turun ke sekoci. Pada 2006, kimiawan Andrea Sella membuat eksperimen untuk televisi Inggris dan menunjukkan ledakan uap bisa terjadi tanpa meninggalkan bekas hangus.
2. Puting beliung laut (waterspout). Hantaman puting beliung bisa menjelaskan air di palka dan layar yang compang-camping. Tekanan rendahnya juga bisa membuat kru salah mengira kapal cepat kemasukan air.
3. Alat ukur air yang keliru. Deveau sendiri menduga ada kerusakan, misalnya pada pompa, sehingga pengukuran air terlihat jauh lebih parah dari kenyataan.
Apa pun pemicunya, skenario yang sering diajukan sama-sama berakhir tragis: sekoci terpisah dari kapal, lalu Mary Celeste berlayar sendiri meninggalkan mereka di tengah samudra.
Hoaks dan Cerita Karangan Ikut Meramaikan
Misteri ini makin terkenal gara-gara cerita pendek "J. Habakuk Jephson's Statement" (1884) karya Arthur Conan Doyle, yang kelak menciptakan Sherlock Holmes. Ia mengganti nama kapal menjadi "Marie Celeste", dan sejak itu banyak orang salah menyebut namanya.
Muncul pula kisah karangan seperti makanan yang masih hangat di meja atau semua layar terkembang sempurna. Itu semua tidak sesuai fakta. Ada juga teori cumi-cumi raksasa, tapi seperti kata sejarawan Paul Begg, makhluk laut tidak mungkin ikut membawa sekoci dan alat navigasi kapten.
Meja tulis lipat Kapten Briggs yang ditemukan di Mary Celeste, kini di Peabody Essex Museum, Salem. Foto: Crawdad Blues, CC0, via Wikimedia Commons.
Akhir Kisah Mary Celeste
Setelah sidang, Mary Celeste tetap beroperasi dengan pemilik baru. Ironisnya, kapal ini berakhir tragis karena ulah manusia: pada 1885, kaptennya sengaja menabrakkan kapal ke karang di lepas pantai Haiti sebagai bagian dari upaya penipuan asuransi.
Sementara itu, Kapten Briggs, Sarah, Sophia kecil, dan tujuh awak lainnya tidak pernah terlihat lagi. Nama Mary Celeste pun sampai sekarang jadi istilah untuk tempat yang ditinggalkan secara misterius.
Menurut Kamu Apa yang Terjadi?
Uap alkohol, puting beliung, atau ada hal lain yang belum terpikirkan? Tulis teorimu di kolom komentar, dan bagikan artikel ini ke teman yang suka cerita misteri!
Sumber: Wikipedia, "Mary Celeste"; Paul Begg, Mary Celeste: The Greatest Mystery of the Sea (2007); Brian Hicks, Ghost Ship (2005).
Comments
Post a Comment