Bayangkan kamu tiba di sebuah pulau kecil di tengah laut, tepat di hari Natal kedua. Mercusuarnya berdiri tegak, pintunya tertutup, lampunya sudah dibersihkan dan diisi minyak. Tapi tiga penjaga yang seharusnya ada di sana... hilang tanpa jejak.
Ini bukan cerita horor karangan. Kejadian ini benar-benar terjadi pada Desember 1900 di Mercusuar Flannan Isles, Skotlandia. Sampai sekarang, jasad ketiga penjaganya tidak pernah ditemukan. Wajar kalau kisah ini jadi salah satu misteri laut paling terkenal di dunia. Yuk, kita bedah pelan-pelan!
Mercusuar di Ujung Dunia
Flannan Isles adalah gugusan pulau kecil di Hebrides Luar, lepas pantai barat Skotlandia. Mercusuarnya dibangun di dekat titik tertinggi pulau Eilean Mòr, dirancang oleh insinyur David Alan Stevenson untuk Northern Lighthouse Board (NLB), lembaga pengelola mercusuar Skotlandia.
Lokasinya benar-benar ekstrem. Semua bahan bangunan harus diangkut naik dari kapal ke atas tebing setinggi sekitar 45 meter. Menaranya sendiri tingginya 23 meter, dan lampunya pertama kali dinyalakan pada 7 Desember 1899.
Mercusuar ini dijaga tiga orang secara bergiliran, ditambah satu orang keempat yang bergantian tinggal di darat. Saat itu belum ada radio. Komunikasi dengan daratan hanya lewat pengamatan: seorang pengamat di Pulau Lewis ditugaskan memantau apakah lampu Flannan menyala setiap malam.
Lampu yang Tiba-tiba Padam
Tanda pertama ada yang tidak beres muncul pada 15 Desember 1900. Kapal uap Archtor yang sedang berlayar dari Philadelphia menuju Leith mencatat di buku lognya bahwa lampu Flannan tidak menyala, padahal cuaca sedang buruk.
Laporan itu baru sampai ke NLB pada 18 Desember, saat kapal tersebut merapat di Leith. Kapal pengganti jaga, Hesperus, sebenarnya dijadwalkan berangkat pada 20 Desember. Sayangnya cuaca terlalu ganas, sehingga kapal itu baru bisa mencapai pulau pada siang hari 26 Desember.
Pulau yang Sunyi
Begitu tiba, kru Hesperus langsung merasa ada yang aneh. Tiang bendera kosong. Kotak perbekalan yang biasanya sudah disiapkan di dermaga tidak ada. Dan tidak ada satu pun penjaga yang turun menyambut.
Kapten Jim Harvie membunyikan peluit kapal dan menembakkan suar. Tetap tidak ada jawaban. Akhirnya penjaga pengganti, Joseph Moore, diturunkan sendirian ke darat.
Moore menemukan gerbang dan pintu utama dalam keadaan tertutup. Tempat tidur belum dirapikan, dan jam dinding sudah berhenti karena tidak diputar. Lampu mercusuar sudah dibersihkan dan diisi ulang. Ada satu set jas hujan (oilskin) yang masih tertinggal, tanda bahwa salah satu penjaga keluar tanpa memakainya.
Tiga penjaga yang hilang adalah James Ducat, Thomas Marshall, dan Donald McArthur. Seluruh pulau disisir, tapi mereka tidak ditemukan di mana pun.
Hari itu juga Kapten Harvie mengirim telegram ke NLB. Isinya kurang lebih: telah terjadi kecelakaan mengerikan di Flannan, ketiga penjaga hilang, jam-jam berhenti, dan tanda-tanda lain menunjukkan kejadiannya sekitar seminggu sebelumnya. Ia menduga mereka tertiup angin dari tebing atau tenggelam saat mencoba mengamankan peralatan.
Jejak Badai di Dermaga Barat
Petunjuk paling penting justru ada di dermaga barat. Dermaga timur utuh, tapi dermaga barat rusak parah akibat badai:
- Sebuah kotak penyimpanan di ketinggian sekitar 33 meter di atas permukaan laut hancur dan isinya berserakan.
- Pagar besi bengkok, dan rel kereta pengangkut barang tercabut dari beton.
- Sebuah batu seberat lebih dari satu ton bergeser dari tempatnya.
- Di atas tebing, pada ketinggian lebih dari 60 meter, rumput terkelupas sampai 10 meter dari bibir tebing.
Bayangkan seberapa besar ombak yang bisa melakukan semua itu.
Kesimpulan Penyelidikan Resmi
Pada 29 Desember 1900, Robert Muirhead, superintenden NLB, tiba untuk menyelidiki. Muirhead mengenal ketiga penjaga secara pribadi karena dialah yang dulu merekrut mereka.
Dari pakaian yang tertinggal, ia menyimpulkan Ducat dan Marshall turun ke dermaga barat, sementara McArthur menyusul di tengah hujan lebat hanya dengan kemeja. Menurut Muirhead, ketiganya kemungkinan sedang mengamankan kotak berisi tali tambat di celah batu sekitar 34 meter di atas laut, lalu ombak raksasa naik melewati mereka dan menyapu ketiganya ke laut.
Ducat meninggalkan istri dan empat anak, sedangkan McArthur meninggalkan istri dan dua anak. Sebuah tragedi yang sangat menyedihkan bagi keluarga mereka.

Reruntuhan St. Flannan's Cell dan mercusuar di belakangnya. Foto: JJM, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons.
Dari Ular Laut sampai Kapal Hantu
Karena jasad mereka tak pernah ditemukan, koran-koran saat itu ramai berspekulasi. Ada yang bilang mereka dibawa ular laut. Ada yang menduga mereka sengaja kabur naik kapal untuk memulai hidup baru. Ada juga yang menuduh mata-mata asing menculik mereka, bahkan warga setempat menyebut-nyebut "hantu Seven Hunters", julukan lokal untuk gugusan pulau tersebut.
Puisi terkenal "Flannan Isle" karya Wilfrid Wilson Gibson tahun 1912 makin menambah bumbu. Di puisi itu digambarkan kursi terguling dan makanan yang belum disentuh di meja. Padahal menurut kesaksian langsung Joseph Moore, peralatan dapur justru bersih, tanda mereka pergi setelah selesai makan.
Buku Log Misterius yang Ternyata Palsu
Seiring waktu, beredar cerita soal catatan buku log yang seram. Katanya Marshall menulis tentang angin terdahsyat yang pernah ia lihat, McArthur menangis, ketiganya berdoa, dan catatan terakhir berbunyi "Badai berakhir, laut tenang. Tuhan di atas segalanya."
Kedengarannya merinding, ya? Tapi penelusuran Mike Dash untuk majalah Fortean Times menemukan bahwa catatan log itu fiktif, tambahan cerita yang muncul belakangan. Lagi pula, tidak ada laporan badai di wilayah itu pada 12 sampai 14 Desember.
Teori yang Paling Masuk Akal
Peneliti modern melihat bentuk pantai Eilean Mòr. Garis pantainya penuh celah sempit yang disebut geo, dan dermaga barat berada di salah satunya, berujung di sebuah gua. Saat laut ganas, air bisa masuk ke gua lalu menyembur keluar dengan kekuatan luar biasa.
Peneliti James Love menemukan bahwa Marshall pernah didenda lima shilling karena peralatannya hanyut saat badai. Jadi masuk akal kalau ia dan Ducat buru-buru mengamankan peralatan supaya tidak didenda lagi. McArthur mungkin melihat ombak besar datang, berlari untuk memperingatkan, lalu ikut tersapu. Teori ini juga cocok dengan jas hujan yang tertinggal dan mantel McArthur yang masih tergantung.
Walter Aldebert, penjaga Flannan pada 1953 sampai 1957, punya versi serupa: mungkin satu orang terseret ombak, lalu dua temannya yang mencoba menolong ikut tersapu ombak berikutnya.
Warisan Sebuah Misteri
Mercusuar Flannan tetap dijaga manusia sampai 28 September 1971, lalu dijadikan otomatis. Kisahnya terus menginspirasi karya, dari lagu Genesis, opera The Lighthouse karya Peter Maxwell Davies, film The Vanishing (2018), sampai novel The Lamplighters karya Emma Stonex.
Kalau kamu yang jadi penyelidiknya, teori mana yang paling kamu percaya: ombak raksasa, pertengkaran, atau ada hal lain yang belum terungkap? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!
Sumber: Northern Lighthouse Board (nlb.org.uk, halaman Flannan Islands); Wikipedia, "Flannan Isles Lighthouse".

Comments
Post a Comment