Bayangkan ada sebuah "perang" yang melibatkan tentara, senapan mesin, ribuan peluru, juru kamera film berita, sampai perdebatan di parlemen. Musuhnya? Bukan pasukan negara lain, melainkan burung yang tidak bisa terbang.
Ini bukan lelucon. Pada akhir 1932, Angkatan Darat Australia benar-benar dikerahkan untuk membasmi ribuan burung emu yang merusak ladang gandum di Australia Barat. Hasilnya? Peristiwa ini sampai sekarang dikenang sebagai salah satu "perang" paling kocak dalam sejarah, karena banyak orang menganggap para emu-lah yang keluar sebagai pemenang. Yuk, kita bahas kisah Great Emu War ini.
Kenalan Dulu dengan Emu, "Lawan" yang Diremehkan
Emu (Dromaius novaehollandiae) adalah burung asli Australia sekaligus burung asli tertinggi di benua itu. Tingginya bisa mencapai sekitar 1,9 meter, lebih tinggi dari kebanyakan orang dewasa. Di dunia, ia hanya kalah tinggi dari kerabatnya di Afrika, yaitu burung unta.
Meski tidak bisa terbang, emu adalah pelari tangguh. Saat perlu, ia bisa berlari sampai sekitar 48 km per jam, dan satu langkahnya ketika berlari kencang bisa sepanjang 2,75 meter. Emu juga terbiasa menempuh perjalanan jauh untuk mencari makanan dan air. Kemampuan inilah yang nanti bikin para tentara pusing tujuh keliling.
Seekor emu berlari di pantai Monkey Mia, Australia Barat. Foto: Calistemon, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Awal Mula: Petani Veteran vs 20.000 Emu
Setelah Perang Dunia I, pemerintah Australia membagikan lahan kepada banyak mantan tentara agar mereka bisa bertani di Australia Barat. Masalahnya, banyak lahan itu berada di daerah yang kurang subur. Lalu datang Depresi Besar pada 1929. Para petani didorong menanam lebih banyak gandum dengan janji subsidi dari pemerintah, tapi subsidi itu tidak pernah benar-benar datang, sementara harga gandum terus anjlok.
Di tengah kesulitan itu, datanglah sekitar 20.000 ekor emu. Setiap selesai musim kawin, emu memang biasa bermigrasi dari pedalaman ke arah pesisir. Ladang yang sudah dibuka dan sumber air yang disediakan untuk ternak ternyata jadi "surga" bagi mereka. Emu-emu itu memakan dan merusak tanaman, terutama di sekitar Chandler dan Walgoolan di distrik Campion. Mereka juga menjebol pagar, sehingga kelinci ikut masuk dan menambah kerusakan.
Senapan Mesin Diturunkan
Para petani, yang banyak di antaranya mantan prajurit, mengirim perwakilan untuk menemui Menteri Pertahanan, Sir George Pearce. Karena pernah ikut perang, mereka tahu betul ampuhnya senapan mesin, jadi itulah yang mereka minta.
Sang menteri setuju, dengan beberapa syarat: senjata harus dioperasikan oleh tentara, biaya transportasi pasukan ditanggung pemerintah Australia Barat, dan para petani menyediakan makanan, tempat menginap, serta membayar amunisinya. Seorang juru kamera dari Fox Movietone bahkan ikut diajak untuk merekam operasi ini.
Pasukannya tidak besar. Operasi dipimpin Mayor G.P.W. Meredith dari Royal Australian Artillery, dibantu Sersan S. McMurray dan Gunner J. O'Halloran. Bekal mereka: dua senapan mesin Lewis dan 10.000 butir peluru.

Sersan McMurray dan Gunner J. O'Halloran bersama senapan mesin Lewis saat Perang Emu, 1932. Foto: tidak diketahui, domain publik, via Wikimedia Commons
Serangan Pertama: Emu Pakai "Taktik Gerilya"
Operasi sempat tertunda karena hujan yang membuat kawanan emu menyebar. Baru pada 2 November 1932 pasukan bergerak ke Campion. Di sana terlihat sekitar 50 emu, tapi posisinya terlalu jauh dari jangkauan senapan. Petani mencoba menggiring mereka ke arah jebakan, namun emu-emu itu malah berpencar ke kelompok-kelompok kecil dan berlari ke segala arah.
Momen paling ditunggu terjadi pada 4 November. Meredith menyiapkan penyergapan di dekat sebuah bendungan, dan lebih dari 1.000 emu terlihat mendekat. Kali ini pasukan menunggu sampai burung-burung itu cukup dekat. Sayangnya, senapan mesin macet setelah baru menjatuhkan sekitar 12 ekor, dan sisanya kabur sebelum sempat ditembak lagi.
Para pengamat militer mencatat bahwa setiap kawanan seolah punya "pemimpin", yaitu emu besar berbulu hitam setinggi sekitar 1,8 meter yang berjaga sementara kawanannya makan, lalu memberi peringatan saat pasukan mendekat. Meredith bahkan sempat memasang senapan di atas truk. Hasilnya nihil: truknya tidak bisa menyusul emu, dan jalannya terlalu bergelombang sehingga penembak tidak bisa membidik sama sekali.
Sampai 8 November, sekitar 2.500 peluru sudah ditembakkan, tapi jumlah emu yang berhasil dijatuhkan tidak jelas. Satu catatan menyebut sekitar 50 ekor, catatan lain antara 200 hingga 500. Setelah liputan media yang mengejek dan pembahasan di parlemen, Menteri Pearce menarik pasukan pada hari itu juga.
"Kebal Seperti Tank"
Usai penarikan pasukan, Mayor Meredith memberi komentar yang sampai kini sering dikutip. Ia kagum pada kelincahan emu, bahkan saat sudah terluka. Kurang lebih ia mengatakan: kalau saja ia punya satu divisi pasukan dengan daya tahan terhadap peluru seperti burung-burung itu, pasukan tersebut bisa menghadapi tentara mana pun di dunia, karena emu bisa menghadapi senapan mesin dengan kekebalan layaknya tank.
Ahli burung Australia, Dominic Serventy, juga menulis dengan nada menyindir bahwa "komando emu" rupanya memerintahkan taktik gerilya, sehingga pasukan yang kikuk itu terpecah menjadi banyak unit kecil dan penggunaan peralatan militer jadi tidak ekonomis.
Ronde Kedua dan Angka yang Diragukan
Begitu tentara pergi, emu kembali menyerbu ladang, apalagi saat cuaca panas dan kekeringan. Atas desakan petani dan Perdana Menteri Australia Barat, James Mitchell, operasi dilanjutkan pada 13 November 1932, lagi-lagi dipimpin Meredith.
Kali ini hasilnya lebih baik. Menjelang awal Desember, pasukan disebut menjatuhkan sekitar 100 emu per minggu. Saat ditarik pada 10 Desember, Meredith melaporkan 986 emu terbunuh dengan 9.860 peluru, alias pas 10 peluru per ekor, ditambah klaim 2.500 emu lain yang mati karena luka. Sejarawan menilai angka itu sangat diragukan dan kemungkinan dibesar-besarkan.
Akhir "Perang" dan Solusi yang Lebih Masuk Akal
Petani kembali meminta bantuan militer pada 1934, 1943, dan 1948, tapi semuanya ditolak pemerintah. Sebagai gantinya, sistem hadiah (bounty) bagi pemburu yang sudah berlaku sejak 1923 diteruskan, dan pagar penghalang hewan menjadi cara yang makin populer untuk melindungi ladang.
Kisah ini juga mengundang simpati untuk emu. Sejumlah pegiat konservasi di Inggris memprotes operasi tersebut. Kini emu berstatus "risiko rendah" (least concern) menurut IUCN dan tetap menjadi ikon Australia, bahkan tampil di lambang negaranya. Kisah Perang Emu pun diangkat ke layar lebar, salah satunya film komedi aksi The Emu War yang tayang perdana pada Oktober 2023.
Penutup
Perang Emu jadi pengingat lucu bahwa alam punya cara sendiri untuk "melawan", dan bahwa senjata canggih tidak selalu jadi jawaban. Kadang solusi sederhana seperti pagar justru lebih ampuh daripada senapan mesin.
Menurut kamu, siapa sebenarnya pemenang Perang Emu? Atau kamu tahu kisah lain tentang hewan yang bikin manusia kewalahan? Tulis di kolom komentar, ya!
Sumber: Wikipedia: Emu War, Wikipedia: Emu.
Comments
Post a Comment