Pagi hari, 30 Juni 1908. Di sebuah pos dagang kecil di tengah hutan Siberia, seorang petani sedang duduk santai di beranda rumahnya. Tiba-tiba langit di utara seperti terbelah dua, muncul cahaya menyala, dan ia merasakan panas luar biasa seolah bajunya terbakar. Sedetik kemudian terdengar dentuman dahsyat, dan tubuhnya terlempar beberapa meter dari beranda.
Itulah sekilas kesaksian tentang Peristiwa Tunguska, tumbukan benda luar angkasa paling dahsyat yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Hutan seluas kota besar rata dengan tanah, tapi anehnya tidak ada kawah sama sekali. Jadi, apa sebenarnya yang meledak di atas Siberia? Yuk, kita bahas!
Ledakan di Tengah Taiga Siberia
Ledakan terjadi sekitar pukul 07.14 waktu setempat di dekat Sungai Podkamennaya Tunguska, wilayah terpencil di Siberia Tengah yang saat itu masih bagian dari Kekaisaran Rusia. Sekarang daerah itu masuk Distrik Evenkiysky, Krai Krasnoyarsk.
Para saksi, kebanyakan penggembala rusa kutub dari suku Evenki, melihat bola api yang lebih terang dari Matahari melintas di langit, disusul kilatan dan suara seperti guntur. Orang yang berada paling dekat dilaporkan terpental dan pingsan, sementara tenda dan rumah mereka rusak. Untungnya, karena wilayah ini sangat sepi penduduk, korban jiwa sangat sedikit. Catatan sejarah menyebut setidaknya tiga orang tewas, selain banyak rusa kutub yang mati.
Seberapa Dahsyat Ledakannya?
Gelombang kejutnya memecahkan kaca jendela hingga radius sekitar 200 km. Getarannya terekam stasiun seismik di Rusia dan Jerman, dengan kekuatan setara gempa sekitar magnitudo 5. Gelombang tekanan udaranya bahkan terdeteksi alat ukur di berbagai penjuru dunia, termasuk di Batavia, alias Jakarta zaman Hindia Belanda!
Selama beberapa malam setelahnya, langit di sebagian Eropa dan Asia tampak terang tidak biasa. Di beberapa tempat, orang bisa membaca koran sekitar tengah malam tanpa lampu.
Soal kekuatannya, perkiraan para ilmuwan berbeda-beda, mulai dari sekitar 3 hingga 30 megaton TNT. Angka yang sering dipakai adalah 10 sampai 15 megaton. Perkiraan 15 megaton saja setara sekitar 1.000 kali energi Trinity, uji coba bom nuklir pertama di dunia.
Benarkah 80 Juta Pohon Tumbang?
Survei lapangan pada 1950-an dan 1960-an memetakan area hutan yang tumbang seluas sekitar 2.150 km², lebih dari tiga kali luas daratan Jakarta. Bentuknya unik, mirip kupu-kupu raksasa yang membentangkan sayap. Pohon-pohonnya roboh ke arah luar dari satu titik pusat.
Di internet, kamu mungkin sering membaca angka "80 juta pohon tumbang". Faktanya, angka itu ternyata bermasalah. Menurut kajian Mark Boslough dan rekan-rekannya yang terbit pada 2025, angka tersebut berasal dari perkiraan kasar tahun 1930-an yang mengasumsikan luas hutan rusak sekitar 8.000 km², kira-kira empat kali lebih besar dari kenyataan. NASA sendiri cukup menyebut "jutaan pohon" tumbang. Tetap saja, itu jumlah yang luar biasa!
Pohon-pohon tumbang di kawasan Tunguska, difoto pada Mei 1929 saat ekspedisi Leonid Kulik. Gambar: Leonid Kulik, domain publik, via Wikimedia Commons
Leonid Kulik dan Kawah yang Tak Pernah Ada
Anehnya, butuh hampir 20 tahun sampai ada ilmuwan yang benar-benar tiba di lokasi. Lokasinya terlalu terpencil, ditambah Rusia sedang dilanda Perang Dunia I, revolusi, dan perang saudara.
Pada 1921, Akademi Sains Soviet mengutus mineralog Leonid Kulik. Ekspedisi pertamanya gagal mencapai lokasi karena medannya terlalu sulit. Baru pada 1927 Kulik berhasil tiba di pusat ledakan dengan bantuan pemburu Evenki sebagai pemandu. Ia berharap menemukan kawah besar dan bongkahan besi meteorit.
Yang ia temukan justru membingungkan. Tidak ada kawah! Tepat di pusat ledakan, pohon-pohon malah masih berdiri tegak, tapi gundul tanpa ranting dan kulit, mirip tiang telegraf. Semakin jauh dari pusat, pohon-pohon roboh berjajar ke arah luar. Kulik kembali beberapa kali, termasuk mengeringkan sebuah rawa yang ia kira kawah, tapi di dasarnya hanya ada tunggul pohon tua.

Leonid Kulik, peneliti pertama yang mencapai pusat ledakan Tunguska, difoto pada 1929. Gambar: Yevgeny Krinov, domain publik, via Wikimedia Commons
Lalu, Apa yang Meledak?
Pola pohon seperti itu ternyata khas ledakan di udara (airburst). Pohon tepat di bawah ledakan terkena hantaman dari atas sehingga tetap berdiri, sedangkan pohon di sekitarnya tersapu dari samping. Jadi, benda luar angkasa itu diduga meledak sebelum sempat menyentuh tanah.
Menurut NASA, benda itu diperkirakan berukuran 50 hingga 100 meter dan meledak sekitar 6 sampai 10 km di atas permukaan. Hampir seluruh tubuhnya menguap, sehingga tidak ada kawah. Penelitian tahun 1950-an dan 1960-an menemukan butiran mikroskopis kaya nikel di tanah sekitar lokasi, yang diduga berasal dari luar angkasa.
Ada dua kandidat utama. Pertama, asteroid berbatu, yang kini dianggap paling mungkin oleh sebagian besar ilmuwan. Kedua, komet, bola es dan debu yang akan menguap habis. Teori komet sempat populer karena bisa menjelaskan langit malam yang terang, tapi kritikus berpendapat komet yang rapuh akan hancur lebih tinggi di atmosfer.
Teori Nyeleneh: Dari Gas Bumi sampai Tesla
Namanya juga misteri, teori aneh pun bermunculan. Sebagian kecil peneliti menduga ledakan berasal dari semburan gas alam dari dalam bumi, tapi gagasan ini tidak didukung mayoritas ilmuwan, apalagi banyak saksi melihat bola api melintas di langit.
Di dunia fiksi, Tunguska lebih liar lagi. Penulis fiksi ilmiah Rusia Alexander Kazantsev pada 1946 membayangkan ledakan mesin pesawat alien dari Mars. Ada juga legenda urban bahwa ledakan itu akibat uji coba "sinar maut" Nikola Tesla. Sayangnya, cerita ini ternyata karangan dari sebuah biografi fiksi tahun 1994 dan bertentangan dengan fakta sejarah.
Kenapa Tunguska Penting Sampai Sekarang?
Tunguska adalah pengingat bahwa batu luar angkasa yang "cuma" berukuran puluhan meter bisa menghancurkan wilayah seluas kota besar. Peristiwa sebesar ini memang jarang, diperkirakan sekali dalam beberapa ratus hingga seribu tahun. Tapi versi kecilnya lebih sering terjadi. Pada 15 Februari 2013, meteor selebar sekitar 17 sampai 20 meter meledak di atas Chelyabinsk, Rusia, dan lebih dari 1.200 orang terluka, sebagian besar terkena pecahan kaca.
Karena itu, NASA kini punya Kantor Koordinasi Pertahanan Planet untuk melacak asteroid berbahaya, dan lewat misi DART sudah menguji teknologi untuk membelokkan asteroid. Pada 2016, PBB juga menetapkan 30 Juni sebagai Hari Asteroid Internasional, tepat di tanggal Peristiwa Tunguska, untuk meningkatkan kesadaran soal bahaya asteroid. Salah satu penggagas awal Asteroid Day adalah Brian May, gitaris Queen yang juga astrofisikawan.
Fakta penutup yang menarik: citra satelit Landsat yang dirilis NASA menunjukkan kawasan itu kini kembali ditutupi hutan dan rawa yang sehat, nyaris tanpa jejak ledakan.
Penutup
Lebih dari seabad berlalu, Peristiwa Tunguska masih menyisakan pertanyaan, terutama soal asteroid atau komet. Yang jelas, kejadian ini membuat manusia lebih serius mengawasi langit.
Menurutmu, apa yang sebenarnya meledak di atas Siberia? Kamu tim asteroid, tim komet, atau masih penasaran dengan teori nyelenehnya? Tulis pendapatmu di kolom komentar!
Sumber: Wikipedia: Tunguska event, NASA: 115 Years Ago, The Tunguska Asteroid Impact Event, NASA Earth Observatory, Scientific Reports (Boslough dkk., 2025), Wikipedia: Asteroid Day.
Comments
Post a Comment