Banjir Bir London 1814: Saat Tangki Porter Meledak dan Gelombang Alkohol Menyapu Kampung Kumuh St Giles
Bayangkan kamu tinggal di kampung kumuh London abad ke-19. Suatu sore, tanpa peringatan, dinding belakang pabrik bir jebol. Yang keluar bukan air, melainkan gelombang bir porter hitam pekat setinggi hampir lima meter. Dalam hitungan menit, lorong sempit dan rumah bertingkat rendah di St Giles terendam alkohol.
Ini bukan cerita kartun. Tanggalnya 17 Oktober 1814. Tempatnya Meux & Co's Horse Shoe Brewery di Tottenham Court Road, London. Peristiwa itu sekarang dikenal sebagai London Beer Flood, atau Banjir Bir London. Sama seperti banjir molase Boston 1919, kisahnya terdengar aneh, tapi korbannya nyata.
Pabrik Bir di Pinggir Kampung Kumuh
Horse Shoe Brewery berdiri di sudut Tottenham Court Road, tepat bersebelahan dengan St Giles rookery, kawasan padat yang dihuni orang miskin, pekerja harian, dan banyak keluarga Irlandia. Di situ Meux & Co memproduksi porter, bir gelap yang saat itu sangat populer di London.
Untuk menampung fermentasi, pabrik memasang tong kayu raksasa. Salah satunya tingginya sekitar 22 kaki atau 6,7 meter, digelang oleh hoop besi besar. Tong seukuran itu menjadi kebanggaan industri, sekaligus titik lemah yang belum sepenuhnya dipahami orang pada masa itu.
Satu Hoop Besi Lepas, Satu Jam Kemudian Tong Meledak
Sore itu, seorang juru tulis bernama George Crick melihat salah satu hoop besi di tong porter yang sedang difermentasi sudah lepas. Ia tidak panik berlebihan. Di pabrik itu, hoop yang longgar atau lepas kadang dianggap kejadian biasa. Crick lalu menulis surat kepada salah satu mitra perusahaan untuk melaporkan kondisi itu.
Sekitar satu jam setelah hoop itu jatuh, saat Crick masih berdiri di platform sekitar sembilan meter dari tong sambil memegang suratnya, tong kayu itu tiba-tiba pecah tanpa tanda-tanda lain. Cairan yang keluar begitu kuat sampai menabrak stopcock atau keran tong tetangga, lalu menghancurkan beberapa barel besar di sekitarnya. Volume total bir yang terlepas dilaporkan berbeda-beda antar sumber, berkisar antara sekitar 128.000 hingga 323.000 galon imperial.
Gelombang 15 Kaki Menyapu New Street
Gaya dorong cairan itu meruntuhkan dinding belakang pabrik yang tingginya sekitar 25 kaki atau 7,6 meter. Sebagian bata bahkan terlempar ke atap rumah di Great Russell Street. Lalu keluarlah gelombang porter setinggi sekitar 15 kaki atau 4,6 meter, menyapu kawasan New Street dan sekitarnya.
Di tanah yang rendah dan drainase yang buruk, bir menggenangi ruang bawah tanah yang banyak dihuni orang. Beberapa rumah rusak berat atau ambruk. Warga yang selamat sempat naik ke atas meja dan perabot supaya tidak tenggelam. Di dalam pabrik sendiri, pekerja ada yang terluka dan harus diselamatkan dari genangan, tapi tidak ada pekerja pabrik yang tewas.
Delapan Korban, Semuanya Perempuan dan Anak-anak
Korban jiwa ada delapan orang, semuanya perempuan dan anak-anak. Sidang coroner mencatat nama-nama mereka: Eleanor Cooper (14), Mary Mulvey (30), Thomas Murry (3), Hannah Bamfield (4 tahun 4 bulan), Sarah Bates (3 tahun 5 bulan), Ann Saville (60), Elizabeth Smith (27), dan Catherine Butler (65).
Lima di antaranya sedang menghadiri wake atau malam penenangan Irlandia untuk seorang anak laki-laki berusia dua tahun. Eleanor Cooper, pembantu di Tavistock Arms di Great Russell Street, tewas tertimbun runtuhan dinding saat sedang mencuci peralatan di halaman. Hannah Bamfield sedang minum teh bersama ibunya ketika gelombang datang. Sarah Bates ditemukan tewas di rumah lain di New Street.
Pada 19 Oktober 1814, coroner Middlesex George Hodgson menggelar inquest di workhouse paroki St Giles. Putusannya menyebut kematian itu terjadi "casually, accidentally and by misfortune", secara kebetulan, tidak disengaja, dan karena nasib buruk. Dalam bahasa awam zaman itu, ini sering dipahami sebagai Act of God, musibah di luar kesalahan manusia yang bisa digugat seperti kejahatan biasa.

Dominion Theatre di Tottenham Court Road, kawasan bekas Horse Shoe Brewery. Foto: Stephen Sweeney, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons.
Pabrik Nyaris Bangkrut, Industri Belajar Mahal
Secara bisnis, Meux & Co hampir hancur. Bir yang hilang sudah kena cukai, jadi perusahaan menghadapi kerugian ganda. Mereka akhirnya tertolong sebagian karena HM Excise memberi rebate atau pengembalian cukai atas bir yang tumpah. Tanpa keringanan itu, kebangkrutan jauh lebih mungkin terjadi.
Insiden ini juga jadi pelajaran industri. Perlahan-lahan, pabrik bir menjauh dari ketergantungan pada tong kayu raksasa semacam itu. Horse Shoe Brewery sendiri kemudian pindah pada 1921. Di lokasi lamanya kini berdiri kawasan Dominion Theatre. Perusahaan Meux & Co akhirnya dilikuidasi pada 1961.
Kalau kamu suka sejarah kota yang aneh sekaligus serius, baca juga The Great Stink London 1858, saat bau Sungai Thames begitu parah sampai parlemen diganggu, dan tentu saja banjir molase Boston 1919 yang punya pola mirip: tangki besar, kawasan padat, dan gelombang yang tak terduga.
Aneh, Tapi Jangan Lupa Korban
Banjir Bir London sering muncul di daftar "bencana paling aneh di dunia". Judulnya memang terdengar absurd. Tapi di baliknya ada delapan nyawa, rumah yang ambruk, dan kampung kumuh yang tak punya ruang untuk lari. Sejarah aneh tetap sejarah manusia.
Kamu baru dengar kisah ini, atau sudah pernah baca versi singkatnya di media sosial? Bagian mana yang paling membuatmu geleng-geleng kepala? Tulis di kolom komentar!
Sumber: Wikipedia, "London Beer Flood"; Historic UK, "The London Beer Flood of 1814"; History.com, "The London Beer Flood"; HistoryExtra, "The London Beer Flood Of 1814".
Comments
Post a Comment