Kebakaran Tambang Centralia 1962: Api Bawah Tanah yang Menyala Lebih dari 60 Tahun, Kota yang Dulu Dihuni 2.761 Orang Kini Tinggal 5
Bayangkan sebuah kota kecil yang jalanannya retak dan mengepulkan asap putih, padahal tidak ada satu pun rumah yang terbakar. Apinya ada di bawah kaki, di lorong-lorong tambang batu bara puluhan meter di bawah tanah.
Itulah Centralia, sebuah kota di negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Sejak 1962, api di bawah kota ini tak pernah benar-benar padam. Dulu kota ini pernah dihuni 2.761 orang. Menurut sensus 2020, penduduknya tinggal 5 orang.
Kok bisa? Ceritanya berawal dari urusan yang sangat sepele: membersihkan tempat pembuangan sampah.
Kota Tambang yang Pernah Ramai
Centralia resmi menjadi borough (kota kecil) pada 1866. Daerah ini duduk di atas lapisan batu bara antrasit, dan tambang menjadi sumber penghidupan utama warganya.
Puncak kejayaannya terjadi sekitar 1890, saat sensus mencatat 2.761 penduduk. Waktu itu kota ini punya tujuh gereja, lima hotel, 27 bar, dua teater, sebuah bank, dan kantor pos. Seiring meredupnya industri batu bara, penduduknya pelan-pelan berkurang, tapi Centralia tetap kota yang hidup.
Mei 1962: Bakar Sampah yang Berujung Petaka
Awal 1962, dewan kota menjadikan bekas lubang tambang terbuka sebagai tempat pembuangan sampah. Menurut Departemen Perlindungan Lingkungan Pennsylvania (DEP), lubang itu lebarnya sekitar 75 kaki (kira-kira 23 meter) dan dalamnya sekitar 50 kaki (15 meter).
Menjelang hari libur Memorial Day, sampah di lubang itu perlu dibersihkan. Skenario yang paling banyak diterima: pada 27 Mei 1962, petugas kota sengaja membakar sampah tersebut, lalu memadamkannya dengan air.
Masalahnya, apinya muncul lagi, dan muncul lagi. Belakangan ditemukan lubang di dinding galian yang tertutup sampah. Lubang itu diduga menjadi jalan masuk api ke jaringan lorong tambang tua di bawah kota. DEP menyebut tidak adanya lapisan pembatas tahan api yang dibangun dengan benar membuat api merambat ke batu bara di bawahnya.
Perlu dicatat, asal-usul api ini masih diperdebatkan. Ada teori lain, mulai dari ledakan tambang tahun 1930-an, sampah yang terbakar sendiri, sampai ulah vandal.
Berbagai Upaya Pemadaman yang Gagal
Pada Agustus 1962, gas karbon monoksida dalam kadar mematikan terdeteksi, dan tambang-tambang di sekitar Centralia ditutup. Pemerintah lalu mencoba beberapa cara: menggali titik api, sampai mengisi lorong tambang dengan campuran batu yang dihancurkan.
Semuanya gagal. Penggalian malah membuka jalan bagi oksigen masuk ke lorong tambang, sehingga api makin membesar dan merambat lebih cepat dari para penggali. Proyek pengisian lorong terganggu cuaca musim dingin yang ekstrem, dan dananya habis pada Maret 1963.
Menurut FAQ resmi DEP, membanjiri seluruh area dengan air dianggap tidak praktis dan berbahaya. Menggali seluruh api sebenarnya mungkin, tapi biayanya terlalu besar.
Asap mengepul dari retakan di bekas Jalan Raya Pennsylvania Route 61, Februari 2010. Salju di sekitarnya mencair karena panas dari bawah tanah. Foto: LaesaMajestas, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Bensin yang Kepanasan dan Lubang di Halaman Belakang
Bertahun-tahun, banyak warga tidak merasakan bahayanya secara langsung. Lalu, pada 1979, pemilik pom bensin yang saat itu juga menjabat wali kota, John Coddington, memeriksa tangki bawah tanahnya. Tongkat pengukurnya terasa panas. Saat ia mengukur dengan termometer, suhu bensin di dalam tangki mencapai 172 derajat Fahrenheit, sekitar 78 derajat Celsius.
Puncaknya terjadi pada 14 Februari 1981. Todd Domboski, bocah 12 tahun, sedang berada di halaman belakang rumah neneknya ketika tanah di bawahnya tiba-tiba ambles. Lubangnya selebar sekitar 1,2 meter dan dalamnya sekitar 46 meter.
Todd berpegangan pada akar pohon sampai sepupunya, Eric Wolfgang yang berusia 14 tahun, berhasil menariknya keluar. Asap dari lubang itu kemudian diuji dan ternyata mengandung karbon monoksida dalam kadar mematikan. Kejadian ini membuat perhatian seluruh negara bagian tertuju ke Centralia.
Dari Kota Ramai Jadi Kota Hantu
Pada awal 1980-an, Kongres Amerika Serikat mengalokasikan lebih dari 42 juta dolar untuk merelokasi warga. Hampir semua menerima tawaran ganti rugi. Lebih dari 1.000 orang pindah dan sekitar 500 bangunan dirobohkan. Sensus 1990 hanya mencatat 63 penduduk.
Pada 1992, Gubernur Pennsylvania Bob Casey mengambil alih seluruh properti di kota itu lewat hak eminent domain. Tahun 2002, kantor pos AS bahkan mencabut kode pos Centralia, 17927.
Beberapa warga menolak pergi dan melawan lewat jalur hukum. Akhirnya, pada 29 Oktober 2013, pemerintah setempat sepakat dengan tujuh warga yang tersisa: mereka boleh tinggal sampai akhir hayat, setelah itu rumahnya diambil alih negara.
"Graffiti Highway", bekas ruas Route 61 dekat Centralia yang dipenuhi coretan, difoto dengan drone pada Januari 2019. Foto: Codyrt (derivatif oleh Georgfotoart), CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Jalan Raya Grafiti dan Inspirasi Silent Hill
Salah satu ruas jalan Route 61 rusak parah karena retakan dan asap, hingga akhirnya dialihkan secara permanen pada 1993. Ruas lama yang ditinggalkan itu lalu dipenuhi coretan dan dijuluki "Graffiti Highway". Pada April 2020, pemilik lahannya menimbun jalan itu dengan ratusan gundukan tanah.
Kisah Centralia juga sampai ke Hollywood. Penulis skenario Roger Avary meriset Centralia saat menulis naskah film Silent Hill (2006). Namun, serial game aslinya tidak terinspirasi dari kota tertentu.
Uniknya, gereja Katolik Ukraina di kota itu masih mengadakan misa mingguan. Survei geologi menunjukkan tanah di bawahnya berupa batuan padat, bukan batu bara.
Sampai Kapan Api Ini Menyala?
Menurut DEP, jika dibiarkan, api Centralia diperkirakan bisa terus menyala lebih dari 100 tahun. Perkiraan lain yang sering dikutip media bahkan menyebut 250 tahun. Sejak 1966, lebih dari 2.000 lubang bor telah dibuat untuk memantau dan mengendalikannya.
DEP juga memperingatkan, area itu berbahaya karena gas beracun dan tanah yang bisa ambles tiba-tiba, sehingga orang sangat tidak disarankan berkunjung.
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa keputusan kecil bisa berdampak puluhan tahun, mirip dengan kisah The Great Stink 1858, saat bau busuk Sungai Thames memaksa London membangun selokan raksasa.
Menurutmu Bagaimana?
Kalau kamu warga Centralia dulu, kamu pilih pindah atau bertahan seperti segelintir penduduk terakhirnya? Tulis jawabanmu di kolom komentar, ya!
Sumber: Pennsylvania Department of Environmental Protection, "Centralia Mine Fire Resources" dan "The Centralia Mine Fire: Frequently Asked Questions/Answers" (pa.gov); Wikipedia, "Centralia, Pennsylvania" dan "Centralia mine fire".
Comments
Post a Comment