Misteri Isdal Woman 1970: Perempuan dengan 8 Identitas Palsu yang Ditemukan di Lembah Es Norwegia, Sampai Kini Belum Bernama
29 November 1970, pagi hari di lereng Gunung Ulriken, Bergen, Norwegia. Seorang pria yang sedang mendaki bersama dua putrinya menemukan sesuatu yang membuat mereka langsung pulang dan menelepon polisi: jasad seorang perempuan di antara bebatuan, di lembah yang warga setempat sebut Isdalen, alias "Lembah Es".
Lebih dari 55 tahun kemudian, polisi Norwegia masih belum tahu siapa dia. Yang mereka tahu justru bikin kasus ini makin aneh: perempuan itu bepergian dengan setidaknya delapan identitas palsu, memakai wig, dan semua label di barang-barangnya sudah dihapus. Dunia mengenalnya sebagai Isdal Woman, atau Perempuan Isdal.
Lembah dengan Julukan Seram
Isdalen bukan tempat yang asing bagi warga Bergen. Lembah di sisi utara Ulriken ini punya julukan lain yang kurang enak didengar, "Dødsdalen" atau Lembah Kematian, karena sejarah kecelakaan pendakian di sana.
Polisi Bergen langsung membuka penyelidikan besar dengan nomor berkas "134/70". Di sekitar jasad ditemukan bekas api unggun, sebotol kosong minuman keras St. Hallvard, dua botol air plastik, sepatu bot karet, payung, dompet, jam tangan, anting, dan cincin. Anehnya, semua label dan tanda pengenal di barang-barang itu sudah dicopot atau digosok hilang.
Dua Koper di Stasiun Kereta
Tiga hari kemudian, polisi menemukan dua koper milik perempuan itu yang ditinggalkan di Stasiun Kereta Bergen. Isinya seperti perlengkapan tokoh film mata-mata.
Di lapisan dalam salah satu koper tersembunyi lima lembar uang 100 Deutsche Mark. Ada juga beberapa wig, pakaian, kosmetik, krim eksim, uang 135 kroner Norwegia, koin Belgia, Inggris, dan Swiss, peta, jadwal perjalanan, kacamata tanpa minus, dan sebuah buku catatan. Lagi-lagi, semua informasi identitas sudah dihilangkan.
Satu-satunya petunjuk kecil: sidik jari parsial di kacamata hitam yang cocok dengan milik perempuan itu.
Delapan Nama, Satu Perempuan
Buku catatannya ternyata berisi kode. Setelah dipecahkan, polisi tahu isinya adalah tanggal dan tempat yang pernah ia kunjungi. Dari situ mereka menelusuri formulir check-in hotel tulisan tangan di berbagai kota.
Hasilnya mengejutkan. Perempuan ini sudah berkeliling Norwegia, ke Oslo, Trondheim, dan Stavanger, juga ke Paris, dengan memakai setidaknya delapan paspor dan nama palsu. Namanya berganti-ganti: Geneviève Lancier, Claudia Tielt, Vera Jarle, Fenella Lorck, Elisabeth Leenhouwer, dan lainnya. Tanggal lahir dan pekerjaannya juga berubah-ubah, tapi kewarganegaraannya selalu ditulis Belgia. Hampir semua alamat jalan yang ia tulis ternyata fiktif.
Staf hotel mengingatnya sebagai perempuan menarik setinggi sekitar 163 cm, berambut cokelat gelap, yang lebih banyak diam di kamar dan terlihat waspada. Ia sering minta pindah kamar setelah check-in dan mengaku sebagai pedagang keliling atau pedagang barang antik. Seorang saksi pernah mendengarnya bicara bahasa Jerman dengan seorang pria di hotel.
Ia terakhir terlihat hidup pada 23 November 1970, saat check-out dari kamar 407 Hotel Hordaheimen. Ia membayar tunai lalu minta dipanggilkan taksi. Ke mana ia pergi setelah itu sampai jasadnya ditemukan enam hari kemudian, tidak ada yang tahu.
Bunuh Diri atau Ada yang Lain?
Hasil autopsi menyebut ia meninggal karena kombinasi obat tidur fenobarbital dalam jumlah besar dan keracunan karbon monoksida. Polisi menyimpulkan kemungkinan besar bunuh diri, dan kasusnya ditutup cukup cepat.
Tapi banyak orang tidak puas. Kenapa harus menghapus semua label? Kenapa butuh delapan identitas? Era itu adalah puncak Perang Dingin, dan arsip militer Norwegia yang belakangan dibuka menunjukkan banyak pergerakannya bertepatan dengan uji coba rahasia rudal Penguin. Seorang nelayan bahkan mengaku melihatnya di area uji coba di Stavanger.
Pada 1991, seorang sopir taksi anonim mengaku bahwa setelah menjemput perempuan itu dari hotel, ada seorang pria lain yang ikut naik sampai ke stasiun. Pada 2005, seorang warga Bergen bercerita bahwa lima hari sebelum jasad ditemukan, ia melihat perempuan mirip sketsa polisi berjalan di bukit Fløyen dengan pakaian kota, diikuti dua pria bermantel. Ia sempat melapor ke kenalan di kepolisian, tapi disuruh melupakannya.
Gunung Ulriken, Bergen. Lembah Isdalen berada di sisi utaranya. Foto: P. E. Dressel, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Gigi yang Akhirnya "Bicara"
Untungnya, saat autopsi tahun 1970, rahang dan giginya diangkat karena perawatan giginya unik, dan sampel jaringannya disimpan. Ia sendiri dimakamkan pada 5 Februari 1971 secara Katolik di makam tanpa nama di Bergen, dalam peti seng agar mudah digali lagi kalau suatu hari keluarganya muncul.
Kasus ini dibuka kembali pada 2016. Setahun kemudian, analisis isotop stabil pada giginya memberi petunjuk baru: ia kemungkinan lahir sekitar tahun 1930, plus minus empat tahun, di sekitar Nuremberg, Jerman, lalu pindah ke Prancis atau perbatasan Prancis-Jerman saat masih kecil. Ini cocok dengan analisis tulisan tangannya yang menunjukkan ia bersekolah di Prancis atau negara tetangganya.
Pada 2018, NRK dan BBC World Service merilis podcast Death in Ice Valley yang membuat kasus ini dikenal di seluruh dunia. Pendengar ikut mengirim petunjuk, dan pada 2021 dua nama perempuan sempat diselidiki sebagai kandidat. Hasilnya? Belum ada yang terbukti. Analisis DNA mitokondria menunjukkan haplogrup H24, yang garis keturunan ibunya mengarah ke Eropa Tenggara atau Asia Barat Daya.
Kasus ini sering disandingkan dengan misteri serupa. Kalau suka, baca juga kisah Somerton Man, pria tanpa nama di pantai Adelaide dan misteri tiga penjaga mercusuar Flannan Isles yang lenyap.
Menurutmu, Siapa Dia?
Mata-mata Perang Dingin, penipu internasional, atau seseorang yang sekadar ingin menghilang? Somerton Man akhirnya teridentifikasi lewat DNA setelah 74 tahun, jadi mungkin suatu hari Perempuan Isdal juga punya nama lagi. Tulis teorimu di kolom komentar!
Sumber: BBC World Service & NRK, podcast "Death in Ice Valley"; Wikipedia, "Isdal Woman"; The Doe Network, kasus Isdal Woman.
Comments
Post a Comment