Kisah Stubby: Anjing Liar dari Kampus Yale yang Jadi Pahlawan Perang Dunia I dan Menyelamatkan Tentara dari Gas Beracun 1918
Musim panas 1917, di lapangan kampus Universitas Yale, Amerika Serikat, ratusan tentara sedang latihan baris-berbaris sebelum dikirim ke medan Perang Dunia I. Di tengah mereka, ada satu "peserta" yang tidak terdaftar: seekor anjing liar bertubuh kecil, berbulu belang cokelat, dengan ekor pendek.
Para tentara menamainya Stubby. Tidak ada yang menyangka, anjing jalanan ini kelak ikut ke Prancis, menyelamatkan banyak tentara dari gas beracun, dan sekarang tubuhnya dipajang di museum Smithsonian. Ini kisahnya.
Anjing Liar yang Ikut Latihan Militer
Stubby ditemukan berkeliaran di kampus Yale di New Haven, Connecticut, pada Juli 1917, saat pasukan Resimen Infanteri ke-102 dari Divisi ke-26 yang dijuluki "Yankee Division" sedang berlatih di sana.
Seorang prajurit bernama J. Robert Conroy langsung akrab dengannya. Stubby ikut nongkrong saat latihan, menghafal bunyi terompet tanda aba-aba, ikut baris-berbaris, bahkan belajar "hormat" dengan menempelkan kaki kanan depannya ke dekat alis. Menurut Smithsonian, kehadirannya bikin semangat pasukan naik, jadi ia dibiarkan tinggal walau hewan sebenarnya dilarang di kamp.
Diselundupkan ke Kapal Menuju Prancis
Masalahnya, saat pasukan harus berangkat ke Eropa, tidak ada "tiket" untuk Stubby. Conroy pun menyelundupkannya ke kapal SS Minnesota.
Ketahuan? Tentu saja. Ceritanya, saat komandan Conroy memergoki Stubby, anjing itu langsung memberi hormat seperti yang sudah dilatih. Sang komandan luluh dan Stubby boleh ikut. Lucu banget, kan?
Pasukan ke-102 tiba di garis depan pada 5 Februari 1918. Stubby pun ikut masuk parit, di tengah suara tembakan dan dentuman artileri.

Jenderal John J. Pershing memberi medali kepada Stubby pada 1921, dengan Robert Conroy di belakang. Foto: tidak diketahui, domain publik, via Wikimedia Commons.
Penjaga dari Serangan Gas Beracun
Luka pertama Stubby di medan perang justru karena gas. Ia sempat dirawat di rumah sakit lapangan sampai pulih. Tapi pengalaman pahit itu membuat hidungnya jadi sangat peka terhadap bau gas, sekecil apa pun.
Menurut catatan Smithsonian, suatu pagi pasukannya diserang gas saat sebagian besar tentara masih tidur. Stubby mengenali baunya, lalu berlari menyusuri parit sambil menggonggong dan menggigit-gigit tentara supaya bangun dan membunyikan alarm gas. Banyak tentara selamat dari cedera berkat dia.
Stubby juga dikenal suka mencari tentara yang terluka dan menemani mereka. Pada April 1918, ia sendiri terluka oleh serpihan granat di dada dan kakinya. Saat sudah bisa berjalan lagi di rumah sakit, ia malah berkeliling menghibur tentara lain yang dirawat.
Ada juga cerita terkenal bahwa Stubby pernah "menangkap" seorang tentara Jerman. Smithsonian mencatat kisah ini, meski beberapa sumber lain menyebutnya sebagai cerita yang beredar dan sulit dibuktikan detailnya.
Pulang Sebagai Selebriti
Secara total, Stubby disebut ikut dalam 17 pertempuran. Warga Prancis yang terkesan bahkan membuatkan mantel kecil untuknya, yang lama-lama penuh lencana dan medali.
Setelah perang, Stubby pulang bersama Conroy dan jadi bintang. Ia ikut berbagai parade, bertemu tiga presiden Amerika, yaitu Woodrow Wilson, Warren Harding, dan Calvin Coolidge. Pada 1921, Jenderal John J. Pershing, panglima pasukan Amerika di Perang Dunia I, menyematkan medali dari lembaga perlindungan hewan Humane Education Society kepadanya.
Waktu Conroy kuliah hukum di Universitas Georgetown, Stubby ikut dan jadi maskot tim olahraga kampus, Georgetown Hoyas.
Benarkah Dia Seorang "Sersan"?
Stubby sering disebut "Sergeant Stubby" dan dijuluki anjing dengan penghargaan terbanyak di Perang Dunia I. Tapi faktanya lebih rumit.
Penulis Ann Bausum, yang menulis buku tentang Stubby untuk National Geographic, menegaskan bahwa Stubby tidak pernah resmi berpangkat sersan. Menurutnya, tidak ada satu pun kliping berita semasa hidupnya yang memakai pangkat itu, dan gelar "Sersan" baru populer belakangan. Bausum juga menyebut sebagian besar medali di mantelnya kemungkinan milik Conroy yang "dibagi" ke sahabatnya. Smithsonian sendiri menyebut Stubby tidak pernah resmi bergabung dengan militer.
Apa pun pangkatnya, jasanya untuk menghibur dan melindungi pasukan tetap diakui.
Stubby di Museum Nasional Sejarah Amerika, Smithsonian, Washington D.C. Foto: Laura A. Macaluso, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons.
Abadi di Museum Smithsonian
Stubby meninggal dengan tenang dalam tidurnya pada 16 Maret 1926 di Washington D.C. Kematiannya diberitakan banyak koran, termasuk The New York Times.
Conroy tidak sanggup berpisah. Kulit Stubby diawetkan di atas cetakan, dan abu jenazahnya disimpan di dalamnya. Pada 22 Mei 1956, Conroy menyumbangkan Stubby ke Smithsonian. Sekarang ia dipajang di pameran "The Price of Freedom: Americans at War" di Museum Nasional Sejarah Amerika.
Kisahnya juga diangkat ke film animasi "Sgt. Stubby: An American Hero" yang rilis pada April 2018, dan di tahun yang sama sebuah patung perunggu Stubby diresmikan di Middletown, Connecticut.
Kalau kamu suka kisah hewan yang ikut "berdinas", baca juga cerita Wojtek, beruang yang jadi tentara Polandia dan Balto dan Togo, anjing pahlawan pengantar serum.
Sahabat Sejati di Masa Paling Gelap
Dari anjing liar di kampus sampai jadi pahlawan yang dikenang lebih dari 100 tahun kemudian, Stubby membuktikan bahwa kesetiaan bisa datang dari mana saja. Kamu punya cerita tentang anjing peliharaan yang setia atau pernah "menyelamatkan" keluargamu? Ceritakan di kolom komentar, ya!
Sumber: Wikipedia, "Sergeant Stubby"; Smithsonian National Museum of American History, catatan koleksi "Stubby" dan artikel "Stubby: Dog, Hoya mascot, and war hero"; Smithsonian Sidedoor, "Tails of Bravery"; Ann Bausum, "Meet the Real Sergeant Stubby".
Comments
Post a Comment